4 Alasan Anies Muhaimin Kalah Telak di Pilpres 2024

Siapa yang layak kita salahkan atas kekalahan pasangan Anies Muhaimin?

Sepertinya mereka belum rela menerima kenyataan bahwa pemilihan presiden kali ini hanya berlangsung satu putaran dan pemenangnya adalah pasangan prabowo Gibran dan pasangan Anies Muhaimin hanya mampu meraup suara dua puluh lima persen saja. Sungguh benar-benar menyakitkan.

Saya akan coba jabarkan bagaimana Anies bisa kalah dan siapa yang harus disalahkan.

Sosok Anies itu sendiri

Anies sejak awal selalu menjadi anti tesis Jokowi. Itu merupakan salah satu blunder terbesar. Mau ga mau dalam pemilu ini sosok Jokowi itu sangat berpengaruh karena rakyat masih memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Diatas 70% ketika Anies mendeklarasikan diri menjadi capres dan diatas 80 ketika kampanye sudah berjalan. Otomatis setidaknya ada 70% lebih masyarakat yang ogah memilih Anies karena lebih mengharapkan apa yang sudah Jokowi lakukan itu di lanjutkan oleh capres berikut nya.

Oot dikit. Sebenarnya Ganjar pernah mendapatkan peluang Jokowi effect ini karena posisi elektebilitas nya sempat melebihi Anies. Pada saat itu banyak yang berpikir kalau Ganjar adalah penerus Jokowi karena berasal dari partai yang sama dan di beberapa kali di endorse Jokowi (walau Jokowi bergantian meng endorse Ganjar dan prabowo, tapi tidak ke Anies). Tapi sejak peristiwa world cup U20 yang menunjukan loyalitas Ganjar itu ke partai dan Megawati, bukan ke Jokowi, elektebilitas Ganjar turun secara perlahan.

Politik identitas. Walau Anies dianggap cukup bagus menjadi gubernur di Jakarta (walau ada pertentangan dari kubu yang tidak puas dengan terpilih nya Anies menjadi gubernur), tetapi masyarakat masih kecewa dengan politik identitas yang di lakukan di tahun 2017 ketika pilgub dulu. Stigma itu melekat di Anies walaupun Anies sebenarnya sosok yang pluralisme. Tetapi Anies memanfaatkan situasi politik Identitas ini. Blunder nya, politik identitas itu juga di gunakan dalam kampanye Pilpres ini. Pendukung politik identitas yang mementingkan Agama diatas politik bukan mayoritas masyarakat Indonesia, itu yang membuat elektebilitas Anies tertahan dan kemungkinan akan mengalami kekalahan dalam pemilu ini.

Mengecewakan Koalisi Pengusung nya

Alasan demokrat keluar dari koalisi perubahan

Sejak awal koalisi Anies itu bukan koalisi yang solid. Banyak yang memprediksi kan koalisi ini akan pecah apabila bagi bagi kue nya tidak pas dan benar saja, akhirnya perpecahan timbul ketika kue itu tidak di bagikan ke demokrat. Awalnya banyak yang memprediksi kan kalau AHY akan dijadikan cawapres Anies, tapi secara sepihak Cak imin lah yang di pilih sebagai cawapres. Ini membuat demokrat membelot dan keluar dari koalisi yang membawa suara pendukung demokrat pergi walau akhirnya di isi suara dukungan dari PKB. Walau demikian ini tidak akan berpengaruh besar karena posisi demokrat dan PKB itu sebelas dua belas sehingga cuma gali tutup lubang aja. Seandainya mereka mempertahankan suara demokrat di koalisi, kemungkinan elektebilitas Anies akan naik seiring dengan suara demokrat yang tetap berada di sana di tambah dengan masuknya PKB. Walau akhirnya PKS tetap mendukung Anies, pada awalnya, mereka juga tidak banyak bicara ketika perpecahan ini terjadi. Mungkin ada kekecewaan juga tetapi berhasil di redam, soalnya Perginya PKS akan membuat koalisi semakin kurus. Dimata masyarakat yang masih swing, perpecahan ini juga membuat elektebilitas Anies menurun karena ketidakkonsisten Anies yang relevan dengan yang terjadi di masa lalu dimana tidak ada sekutu yang loyal kepadanya (sebelumnya Jokowi dan kemudian Prabowo).

Tidak Memiliki Dukungan Partai yang Besar

Untuk memajukan Anies itu cukup sulit. Beberapa partai besar sudah punya jagoan nya. Gerindra pasti mengusung prabowo yang merupakan ketum nya. PDIP sudah bisa jalan sendiri tanpa perlu koalisi dan di pastikan tidak akan memilih Anies karena memiliki visi dan misi yang berbeda jauh (pada saat itu), Terutama antitesis Anies terhadap sosok Jokowi. Di luar dugaan, Nasdem lah yang mengusung Anies pertama kali, padahal Anies merupakan partai pendukung pemerintah Jokowi. Sejak mendukung Anies, Nasdem langsung tidak mesra lagi dengan pemerintah. Setelah Nasdem, Anies dengan mudah bisa menggaet oposisi, yaitu PKS yang selama ini emang sudah mesra dengan Anies dan Demokrat. Ironis nya, partai ini bukan lah partai yang besar. Walau dukungan ini membuat Anies memenuhi syarat presidential Threshold, tapi semua partai ini bukan partai yang besar sehingga tidak langsung mengerek elektebilitas Anies. Banyak partai yang masih menunggu kemana dukungan Jokowi. Mungkin pada bosan kali ya ujung ujungnya Jokowi lagi, Jokowi lagi, tapi emang seberpengaruh itu suara Jokowi. Pada saat itu Partai yang menunggu ini salah satu nya merupakan partai yang besar, yaitu Golkar. Apabila ada dukungan Golkar, maka ada cukup banyak suara yang membuat elektebilitas capres naik karena Golkar masih memiliki basis pendukung yang kuat yang akan mengikuti kemana capres pilihan partainya.

Dalam perjalanan ada beberapa manuver politik yang dilakukan koalisi Anies seperti akhirnya memilih Cak imin dari PKB yang merupakan partai pendukung pemerintah (seperti yang sudah di jelaskan diatas). Harapan nya, suara Cak imin ini bisa menarik pendukung Jokowi dan juga dukungan NU. Masuknya cak Imin juga di harapkan bisa menurunkan stigma politik identitas Anies karena NU terkenal sebagai organisasi yang toleran. Sayang nya di masa kampanye, semua itu gagal. Anies tetap beberapa kali tetap memainkan politik identitas. Dalam perkembangan nya, Jokowi secara tersirat mendukung Prabowo terutama setelah di pilih nya Gibran sebagai Cawapres Prabowo. Dukungan Jokowi Ini langsung membuat kubu prabowo mendapatkan koalisi gemuk karena dukungan partai yang mempunyai suara signifikan dalam pemilu lalu seperti gerindra, Golkar, PAN, dan kemudian Demokrat yang beralih mendukung Prabowo. Dukungan terhadap prabowo ini membuat elektebilitas Prabowo yang awalnya ga terlalu tinggi menjadi melebihi Anies dan Ganjar.

Faktor Cak Imin

Seperti yang saya tulis diatas, awalnya penunjukan cak imin ini mungkin akan menaikkan elektebilitas Anies dibanding anies menunjuk AHY. Salah satu alasan nya, cak imin berasal dari partai pendukung pemerintah, memiliki pengalaman politik yang cukup tinggi dan diharapkan mampu menggaet suara NU. Tapi, selama kampanye, begitu banyak blunder yang di lakukan oleh cak Imin. Banyak pernyataan selama kampanye yang kontroversi, menjadi penentang pemerintah yang vokal (padahal PKB masih merupakan partai pendukung pemerintah) yang justru kontradiktif dengan rekam jejak nya, dan malahan ikut menggunakan politik identitas sehingga membuat perpecahan di internal NU. Malah kalau begini saya pikir mungkin akan lebih baik kalau Anies sejak awal pilih AHY aja yang lebih kalem dan Jaim..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *